Kamis, 05 Februari 2009

Akhirnya Indonesia Punya Atlas Nasional Resmi

JAKARTA, KAMIS - Setelah enam dasawarsa semenjak Indonesia merdeka akhirnya Indonesia memiliki Atlas Nasional yang mengandung informasi resmi tentang Indonesia untuk pertama kalinya.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), R.W. Batinas, sebelumnya Indonesia hanya memiliki Atlas Hindia Belanda yang merupakan hasil peninggalan dari masa pemerintah kolonial Belanda yang dibuat pada tahun 1938. Hal tersebut disampaikannya ketika membuka acara peluncuran atlas nasional Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta (5/2).


Lebih lanjut ia menjelaskan, atlas nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai media promosi tentang Indonesia dan media pembelajaran. "Nantinya kita akan meluncurkan dua jenis atlas nasional ini.Selain kita akan meluncurkan dalam bentuk buku tercetak, kita juga akan meluncurkannya dalam bentuk web Atlas Nasional Indonesia yang dapat diakses melalui internet untuk mempermudah akses sehingga manfaat atlas ini sebagai media promosi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik" jelas Batinas.

Atlas nasional ini nantinya akan terdiri dari tiga volume. "Kita bersama-sama dengan pihak-pihak yang terkait lainnya akan merampungkan dua volume lagi yang belum selesai.Mudah-mudahan kita akan menyelesaikannya pada tahun 2010 nanti," ujar Batinas.

Atlas nasional ini dapat diperoleh publik melalui Pusat Jasa dan Informasi Bakosurtanal.

Jumat, 30 Januari 2009

Presiden Israel Diteriaki "Pembunuh" oleh PM Turki

DAVOS, JUMAT — Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan beranjak meninggalkan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (29/1), setelah menyebut Presiden Israel Shimon Peres sebagai "pembunuh." Sebutan itu dikumandangkan oleh Tayyip Erdogan sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap Shimon Peres yang mendukung operasi militer Israel di Gaza.

Presiden Israel Shimon Peres (kanan) mendengarkan tanggapan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan setelah menyampaikan pembelaan terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza pada hari kedua Forum Ekonomi Dunia di Davos, 29 Januari 2009
Peserta debat yang bertopik Gaza, seperti penasihat Presiden Barack Obama, Valerie Jarret, tersontak melihat Erdogan dan Shimon Peres terlibat debat sengit dengan nada tinggi dan penuh emosi. Dalam debat yang memanas itu, Peres tetap membela posisi Israel dalam serangan militer selama 23 hari terhadap militan Hamas.

Peres menerangkan, operasi militer Israel diberlakukan sebagai respons atas serangan roket Hamas selama 8 tahun yang diarahkan ke wilayah teritorial Israel. Saat menyampaikan pandangannya itu, Peres kerap kali melepas pandangannya ke Erdogan yang mengkritik pemblokadean Israel atas wilayah Gaza.

Erdogan menyebut pemblokadean itu sebagai penjara "terbuka" yang terisolasi dari belahan dunia lain. Erdogan menyampaikan keprihatinannya terhadap operasi militer Israel yang menewaskan sekitar 1.300 warga Palestina, lebih dari separuh di antaranya adalah warga sipil.

"Kenapa Hamas menembakkan roket? Tak ada pemblokadean terhadap Hamas sebelumnya," kata Peres dengan nada suara penuh emosional. "Kenapa mereka (Hamas) memerangi kami, apa yang mereka inginkan? Tak pernah ada kelaparan sebelumnya di Gaza."

Debat ini melibatkan Israel dan Turki sebagai pusat perhatian mengingat peran penting Turki sebagai moderator perdamaian Israel dengan Suriah. Erdogan menyampaikan kekecewaannya dengan mengenang upayanya mengadakan pendekatan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum Israel melancarkan operasi militer di Gaza.

"Saya sedih mengetahui peserta forum bertepuk tangan terhadap ucapanmu (Peres)," kata Erdogan. "Kamu pembunuh. Dan saya berpendapat tindakan itu sangat keliru." Emosi Erdogan memuncak saat seorang moderator panel memotong pernyataannya untuk menanggapi pembelaan Peres terhadap operasi militer Israel melawan Hamas.

Luapan kemarahan ini berlangsung menyusul diadakan debat selama 1 jam di forum yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia di Davos. Erdogan berupaya memojokkan Peres lewat sanggahannya saat debat akan berakhir dengan meminta moderator yang adalah kolumnis Washington Post, David Ignatius, memperkenankan menambah waktu baginya untuk berbicara.

"Saya masih ingat dengan anak-anak yang tewas di pantai-pantai," tegas Erdogan. Saat Erdogan diperintahkan menghentikan komentarnya, Erdogan dengan sikap gusar meninggalkan forum yang dihadiri panelis Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Liga Arab Amr Moussa.

"Anda mengetahui betul pembantaian terhadap warga Palestina," ujar Erdogan secara lantang kepada Peres. "Saya masih ingat 2 mantan perdana menteri di negaramu yang pernah mengaku senang saat tank-tank Israel berhasil menjejakkan kehadiran di tanah Palestina," tambahnya.

Saat moderator berupaya memotong pernyataan Erdogan dengan menjelaskan waktunya telah memasuki jam makan malam, Erdogan menyelanya dengan mengatakan: "Jangan interupsi saya. Kamu tidak mengizinkan saya untuk berbicara. Saya tidak akan ke Davos lagi," tegasnya.

Erdogan menekankan alasannya meninggalkan forum di Davos bukan karena perselisihannya dengan Peres. Erdogan menjelaskan tidak diberikan cukup waktu untuk menanggapi pernyataan Shimon Peres. Erdogan mengeluh karena Peres diberikan waktu 25 menit untuk menyampaikan komentar, sementara dirinya hanya diberi waktu 12 menit.

JIM
Sumber : AP

Rabu, 28 Januari 2009

Tawaran Israel, 1 Tentara Ditukar 1.000 Milisi Hamas

GAZA, RABU — Di tengah proses perdamaian yang berlangsung antara Israel dan kaum Hamas, muncul sebuah tawaran baru.

Kali ini Israel menawarkan opsinya, satu tentara Israel yang ditahan Hamas ditukar dengan seribu tahanan gerilyawan Hamas yang ditahan di penjara Israel.

Ayman Taha, negosiator Hamas, menuturkan, Israel menawarkan pembebasan 1.000 tahanan Palestina, ditukar dengan pembebasan Gilad Shalit, tentara Israel yang ditangkap kaum militan Palestina pada 2006.
Foto kiriman Tentara Pertahanan Israel (IDF) menunjukkan ribuan pasukan cadangan Israel memasuki Jalur Gaza, Senin (12/1).




Shalit sendiri diyakini masih hidup hingga saat ini. Menurut Taha, untuk proses pertukaran tahanan, Israel rencananya akan membuka perbatasan antara negaranya dan wilayah Gaza.

“Operasi ini menciptakan pengertian baru antara Israel dan Hamas. Pihak Hamas menyadari serangan baru tidak akan bisa kami kendalikan lagi,” ujar salah satu pejabat militer Israel seperti dikutip Jerusalem Post, Selasa (27/1).

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, yang mengunjungi Israel pekan lalu, menyebut kepulangan Shalit akan menjadi hal penting dalam proses perdamaian jangka panjang di antara kedua negara.

Namun, gencatan senjata yang berlangsung antara Israel dan Hamas ternoda dengan insiden yang terjadi Selasa (27/1).

Sebuah bom meledak di dekat perbatasan Gaza, menewaskan satu tentara Israel, satu warga Palestina dan melukai tiga korban lainnya. Insiden tersebut terjadi di sekitar wilayah yang dikuasai Hamas, sejak gencatan senjata yang telah dilakukan sepuluh hari lalu. Pihak keamanan di Israel membenarkan ledakan yang terjadi di dekat satuan militernya, yang tengah berpatroli di perbatasan Gaza tengah.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengeluarkan ancamannya, Israel akan membalas serangan tersebut jika Hamas sengaja memicu pertempuran kembali di antara mereka. “Ini merupakan serangan serius. Kami tidak bisa menoleransinya dan akan membalasnya. Saya rasa tak perlu diungkapkan lagi apa alasannya,” ujar Barak.

Warga Palestina yang tinggal di dekat Khan Yunis mengaku mendengar tembakan yang dikeluarkan tank-tank Israel. Belum lagi pesawat-pesawat tempur Israel yang melintasi area tersebut. Petugas patroli dan pria bersenjata Palestina mulai menembakkan senjatanya setelah ledakan terdengar. Seorang warga Palestina, Anwar Al Dreim (24), menjadi korban dalam serangan tersebut. day/afp/tis